Pentingnya Provisional Hand Over dalam Proyek Konstruksi
Hashy AI

Kerja Lebih Mudah dengan Hashy AI.

AI dalam sistem bisnis yang tuntaskan semua pekerjaanmu.

Coba Hashy Sekarang

Pentingnya Provisional Hand Over dalam Proyek Konstruksi

Pentingnya Provisional Hand Over dalam Proyek Konstruksi

Provisional Hand Over atau PHO adalah proses serah terima sementara suatu proyek konstruksi dari kontraktor ke pemilik proyek. Proses ini jadi penanda bahwa bangunan sudah cukup layak digunakan untuk operasional perusahaan tetapi masih memerlukan perbaikan-perbaikan minor.

Proses serah terima sementara ini harus Anda anggap sebagai patokan awal dimulainya masa garansi, yang berarti kontraktor harus bertanggung jawab memperbaiki kekurangan yang ada pada bangunan.

Pada panduan ini, Anda akan dapat memahami apa itu Provisional Hand Over atau serah terima sementara, pentingnya untuk persiapan Final Hand Over (FHO), dan langkah-langkah serta tujuan dari PHO.

Key Takeaways

Provisional Hand Over adalah tahap penting proyek konstruksi untuk memastikan proyek layak digunakan sebelum diperbaiki lebih lanjut kekurangan-kekurangan minornya.

Dokumen proyek seperti laporan kemajuan, dokumen as-built, dan sertifikat uji fungsi menjadi acuan dalam memantau perbaikan bangunan di masa garansi/warranty.

Apa itu Provisional Hand Over?

Provisional Hand Over merupakan salah satu tahap dalam proyek konstruksi di mana kontraktor menyerahkan bangunan sementara kepada pemilik proyek setelah pekerjaan utama selesai. 

Tahap ini sendiri berfungsi sebagai penanda bahwa proyek sudah cukup layak dan hampir siap digunakan secara penuh meski masih ada beberapa kekurangan kecil yang perlu diperbaiki atau diselesaikan.

Tahap serah terima sementara ini bisa Anda anggap juga sebagai tahap evaluasi proyek. Anda sebagai pemilik proyek dan penguji coba akan menguji aspek bangunan apa saja yang sudah bagus dan yang masih perlu diperbaiki.

Semua kekurangan dan kerusakan minor akan dicantumkan ke dalam punch list proyek sebagai daftar keseluruhan kekurangan bangunan yang menjadi tanggung jawab kontraktor untuk diperbaiki dan dioptimalkan lagi.

Tujuan Utama dari Provisional Hand Over

Provisional Hand Over tidak hanya soal memperbaiki kualitas bangunan saja, tetapi juga merupakan fase pergantian penting sebelum memulai masa garansi bangunan dan persiapan serah terima penuh atau Final Hand Over

Berikut merupakan beberapa tujuan dari serah terima sementara proyek yang bisa Anda cermati:

  • Menandai serah terima pekerjaan yang sudah selesai secara substansial: Menandai bahwa proyek sudah selesai secara fungsi utama, tetapi masih memerlukan evaluasi dari klien mengenai segala kekurangan dan kerusakan yang harus diperbaiki kontraktor nantinya.
  • Memberi kepastian teknis dan operasional kepada klien: Proses PHO memberi kepastian bagi klien atau Anda sebagai pemilik proyek untuk mengetahui fasilitas apa saja yang dapat digunakan dengan aman (mis. sistem sprinkler atau MEP/Mechanical, Electrical, and Plumbing) yang dapat diketahui melalui sertifikat PHO. 
  • Sebagai pembuka masa garansi/warranty bagi klien: PHO menjamin bahwa masa garansi bangunan dimulai dan Anda sebagai klien berhak untuk meminta perbaikan bangunan oleh kontraktor tanpa dikenakan biaya tambahan.
  • Berfungsi sebagai referensi formal catatan proyek: Laporan PHO berfungsi sebagai penjamin akuntabilitas kedua pihak. Laporan yang dibuat berdasar kondisi nyata kekurangan maupun yang sudah final dapat dijadikan klien untuk meminta pertanggungjawaban kontraktor ataupun dari sisi kontraktor, semisal klien mengajukan klaim palsu, dapat mengacu pada laporan PHO yang formal secara hukum sebagai perlindungan.
  • Menjamin penyelesaian administratif proyek: Menjadi titik penting di mana semua dokumen seperti BAST 1 (Berita Acara Serah Terima Pertama), Sertifikat Kelayakan Bangunan, dokumen As-Built, serta dokumen hasil uji inspeksi bangunan diserahkan secara resmi kepada Anda sebagai klien.Tujuannya untuk mengetahui bahwa bangunan sudah sesuai standar IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan juga detail perbaikan juga dapat diketahui dengan jelas oleh pemilik proyek.

Memahami tujuan-tujuan di atas dapat membantu Anda mengidentifikasi berbagai komponen yang perlu diperhatikan jika hendak melakukan serah terima sementara.

Apa Saja Tahapan Provisional Hand Over?

Infografis tahapan Provisional Hand Over

Proses Provisional Hand Over dalam proyek konstruksi melibatkan serangkaian tahapan besar yang tidak boleh dilewatkan untuk memastikan bangunan tetap berkualitas dan juga bebas dari sengketa.

Di bawah ini merupakan tahapan-tahapan penting serah terima sementara yang Anda dapat pelajari:

1. Permohonan dan persiapan awal dari kontraktor

Setelah pekerjaan utama selesai, kontraktor akan mengajukan permohonan tertulis kepada Anda sebagai pemilik proyek atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Permohonan ini berisi dokumen pendukung awal seperti laporan kemajuan, as-built, maupun sertifikat uji fungsi sebagai tanda kelayakan bangunan untuk diuji coba.

2. Inspeksi awal bangunan dan peninjauan bersama

Jika permohonan sudah diterima, pihak yang berwenang seperti direksi teknis atau PIC pemeriksa bangunan akan melakukan pemeriksaan awal kesiapan proyek sebelum digunakan lebih lanjut.

Pada tahap ini, seluruh tim pemeriksa akan melakukan pengecekan visual rancang bangun proyek atau Building Information Modelling dan juga kelengkapan dokumen yang diberikan kontraktor.

3. Identifikasi kekurangan atau punch list

Dalam proses inspeksi, jika ditemukan kekurangan, maka segala jenis kekurangan atau kerusakan akan dimasukkan ke dalam punch list. Punch list merupakan daftar yang berisi semua jenis kesalahan atau kekurangan dalam proyek secara detail, baik itu kekurangan minor maupun kekurangan yang cukup signifikan.

Dokumen punch list berfungsi untuk mencapai kualitas yang sesuai dengan rencana proyek awal.

4. Penyusunan dan penandatangan laporan PHO

Laporan PHO kemudian dibuat dan ditandatangani oleh semua pihak, bisa juga disebut sebagai Berita Acara Serah Terima Pertama (BAST 1) sebagai tanda awal dimulainya masa garansi untuk menjamin akuntabilitas seluruh pihak baik itu kontraktor maupun pemilik proyek.

5. Masa warranty untuk memperbaiki kekurangan bangunan

Dalam periode ini, kontraktor wajib untuk menambah kekurangan atau memperbaiki kerusakan yang ada baik secara disengaja atau tidak disengaja saat proses pembangunan utama masih dilaksanakan. Periode ini menjadi jaminan bahwa kontraktor tidak boleh meminta biaya tambahan apapun dalam memperbaiki segala kekurangan yang ada.

6. Persiapan menuju Final Hand Over

Jika seluruh item kekurangan dan kerusakan sudah dikerjakan semua oleh kontraktor, maka proses finalisasi atau serah terima final akan dilakukan untuk peresmian bahwa masa garansi telah berakhir dan bangunan akan dapat segera difungsikan secara penuh oleh pemilik proyek.

Langkah-langkah di atas dapat dijadikan acuan untuk Anda agar tidak bingung proses apa saja yang perlu diperhatikan dalam PHO.

Apakah Pemilik Proyek Berhak Menolak Pengajuan PHO?

Provisional Hand Over harus membutuhkan persetujuan dari semua pemangku kepentingan atau stakeholder

Jika Anda sebagai pemilik proyek atau Pejabat Pembuat Komitmen menemukan bahwa hasil inspeksi bangunan belum menemui mutu yang disetujui atau malah menyimpang jauh dari rencana awal proyek, maka Anda berhak menolak pengajuan PHO dari kontraktor.

Merujuk pada Standar Operasional Prosedur Serah Terima Hasil Pekerjaan Fisik Konstruksi oleh Bina Marga, PPK berhak menunda atau menolak persetujuan serah terima jika inspeksi bangunan tidak sesuai cakupan mutu.

Pentingnya PHO Bagi Final Hand Over

Manfaat PHO bagi serah terima final tentu saja yaitu menjadi checkpoint pengecekan kualitas keseluruhan bangunan agar saat serah terima akhir, bangunan sudah pada kualitasnya yang terbaik.

Hal ini juga dapat mencegah sengketa di kemudian hari semisal jika ada kualitas yang kurang, Anda bisa mengenalinya di awal dan meminta pertanggungjawaban kontraktor agar bangunan menemui hasil yang diminta. Semua kesepakatan menjadi jelas antara Anda sebagai PPK dengan kontraktor.

Selain itu, tahap PHO juga penting dalam menjamin kelengkapan keseluruhan dokumen yang dapat berdampak terhadap kepatuhan perusahaan terhadap pemerintah. Misalnya, jika dokumen pendukung proyek tidak lengkap, maka pemerintah akan mempertanyakan legalitas bangunan Anda.

Manfaat Software Konstruksi Bagi Proses PHO

Dashboard manajemen proyek konstruksi

Pengelolaan proses Provisional Hand Over membutuhkan kecermatan untuk memastikan tidak ada proses yang terlewat karena bisa berpengaruh terhadap selesainya proyek dan formalisasi fungsi bangunan.

Penggunaan software konstruksi dapat menjadi solusi yang membantu untuk keep tracking setiap progres PHO yang ada. Anda dapat mengenali keunggulan dari software di bawah:

  • Manajemen proyek dengan lebih terpadu: Mengelola keseluruhan tahap proyek dimulai dari perencanaan hingga ke tahap PHO dan FHO karena fiturnya memungkinkan integrasi antar progres proyek.
  • Pelacakan real-time setiap tahap proyek: Memantau perkembangan proyek secara real-time untuk memastikan bahwa setiap tahap berjalan sesuai jadwal dan standar yang ditetapkan.
  • Manajemen dokumen yang mudah: Menyimpan, mengelola, dan mengakses semua dokumen proyek dalam satu platform, yang termasuk punch list, sertifikat uji fungsi, dan laporan inspeksi.
  • Fitur untuk melihat jalur kritis proyek: Fitur Critical Path Method (CPM) dapat berguna untuk melihat jalur proyek yang lebih kritis dan berpengaruh bagi jalannya proyek secara positif.
  • Integrasinya dengan maintenance program: Mengintegrasikan PHO dengan fitur maintenance program agar segala perbaikan di masa garansi dapat dipantau untuk memastikan perbaikan kekurangannya dilakukan sesuai dengan punch list dan mengikuti laporan PHO.

Penggunaan software konstruksi sangat membantu dalam menjamin proyek Anda tetap terjaga kualitasnya dan juga mencegah penyelewengan garansi karena setiap perubahan data PHO dapat dilihat secara real-time.

Kesimpulan

Serah terima sementara atau PHO merupakan tahap krusial dalam proyek konstruksi untuk memastikan bangunan layak digunakan sebelum difungsikan secara utuh pada serah terima penuh. 

Melalui PHO, pemilik proyek atau klien seperti Anda memiliki kesempatan untuk mengevaluasi segala kekurangan bangunan yang perlu diperbaiki, memastikan kontraktor bertanggung jawab dalam menyelesaikan proyek.

Dalam PHO, penting untuk menggunakan software konstruksi terintegrasi karena dapat menjamin perbaikan yang dilakukan kontraktor dapat terpantau dan apakah memenuhi standar PHO atau tidak.

Sangat disarankan bagi Anda untuk membangun komunikasi dan menjaga hubungan yang baik dengan kontraktor agar kedua pihak merasa percaya dan jika ada hambatan dalam proyek bisa segera ditangani.

FAQ Seputar Provisional Hand Over

Apa saja syarat PHO proyek?

Syarat-syaratnya meliputi pengerjaan fisik bangunan harus sudah 100% selesai, dokumen seperti kontrak maupun adendum serta dokumen administrasi lain sudah lengkap, dokumen teknis seperti as-built sudah ada, serta tidak ada cacat bangunan yang signifikan.

Apa perbedaan PHO dan FHO?

PHO merupakan fase serah terima sementara bangunan yang sudah jadi meskipun belum sempurna secara fungsi karena masih ada kekurangan kecil yang perlu diperbaiki, sedangkan FHO merupakan fase serah terima final di mana bangunan sudah bisa difungsikan secara normal.

Berapa lama masa pemeliharaan setelah PHO?

Merujuk pada Perpres Nomor 16 Tahun 2018, untuk proyek permanen, masa pemeliharaan atau defect liability period paling singkat 6 bulan terhitung sejak tanggal PHO. Kemudian, pada proyek semi-permanen, masa pemeliharan paling singkat 3 bulan sejak PHO, tetapi bisa lebih panjang menyesuaikan kebutuhan proyek.

Apa saja yang termasuk dalam jaminan garansi?

Yang termasuk jaminan garansi PHO yaitu: kekurangan struktural, masalah pada sistem MEP bangunan, kecacatan pada finishing proyek, serta buruknya kualitas pekerjaan tahap pertama.

Kinan Eliana

Industries

Kinan telah berpengalaman selama 3 tahun di bidang content writing untuk industri manufaktur, konstruksi, dan retail. Ia secara konsisten mengulas topik terkait proses operasional bisnis manufaktur, manajemen omnichannel, manajemen proyek, serta implementasi teknologi digital untuk proses bisnis.

William adalah seorang praktisi dengan gelar Bachelor of Computer Science dari Nanyang Technological University Singapore, dengan keahlian mendalam terkait teknologi informasi dan pengembangan sistem. Pengalaman awal dalam bidang teknologi menumbuhkan ketertarikannya terhadap solusi enterprise yang dapat mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis. Selama sepuluh tahun terakhir, William mendalami dunia sistem Enterprise Resource Planning (ERP), yang memperkuat keahliannya dalam arsitektur sistem, implementasi solusi bisnis terintegrasi, serta optimalisasi proses operasional melalui teknologi.

HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.

Jalankan Bisnis Lebih Mudah Bersama HashMicro

Mulai demo gratis hari ini tanpa komitmen. Dapatkan solusi terbaik untuk bisnis yang lebih efisien.

CTA image